Aceh Menuju Penyutradaraan Dramatisasi Puisi

POPULARITAS.COM – Tahun 2000-an awal, ada fenomena yang terjadi dalam perkembangan sastra Indonesia, yaitu penggubahan karya sastra dari berbentuk teks yang hanya dapat dinikmati secara visual, di ubah menjadi audio visual, seperti menggubah teks prosa (dalam hal ini novel) menjadi film.

Meski bukan merupakan hal baru, Indonesia setidaknya telah meningkatkan kreativitas dalam membuat filmnya dengan mengikuti bentuk gubahan tersebut.

Dengan penggubahan ini, tentunya karya sastra yang sebelumnya hanya dinikmati oleh sebagian kalangan dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Misalnya pada kalangan yang minim waktu untuk membaca dapat menikmatinya melalui menonton film.

Novel-novel yang kita kenal seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih, dan lainnya sudah dijadikan film yang dapat kita nikmati bersama.

Meski demikian, dengan banyaknya referensi melalui film-film tersebut, masih ada anggapan bahwa mentransformasikan prosa ke dalam bentuk drama merupakan hal yang sulit.

Padahal jika mau sedikit saja berusaha, minimal menguasai dasar-dasar transformasi prosa ke dalam bentuk drama, bukanlah suatu hal yang sulit. Kenapa demikian? Alasannya, karena drama dan prosa sama-sama dibangun oleh unsur-unsur cerita secara menyeluruh dan artistik yang menyajikan beragam pola prilaku manusia, yang mengalami permasalahan dalam kehidupannya.

Jangan lupa, dramatisasi puisi tetap bertolak dari puisi. Namun, tentunya tidak semua puisi dapat ditransformasikan ke dalam bentuk drama. Artinya, tidak semua puisi bisa didramatisasi.

Ada ketentuan-ketentuan puisi yang dipilih menjadi naskah dramatisasi, tentunya naskah yang memenuhi syarat sebagai drama.

Sutradara dramatisasi puisi, sama halnya drama pada umumnya (apapun medianya) tetap harus memahami tentang keaktoran dan tata lainnya. Seperti vokal, kostum, rias, musik, dan gerak. Untuk itu sebelum dilakukannya pentas dramatisasi puisi perlu diadakan latihan secara kontinu, mulai dari dasar.

Peran pemerintah juga sangat dibutuhkan untuk menjadikan dramatisasi puisi, terutama di Aceh, agar lebih berkembang dan maju.

Harapan ini sejalan dengan yang disampaikan Nurlaila Hamjah, selaku Kabid Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, pada Bulan Maret 2021 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh telah melaksanakan pelatihan kesenian bagi guru dan pelatih provinsi khusus seni dramatisasi puisi.

Diharapkan kegiatan tersebut dapat memberikan angin segar, berupaya mengokohkan pondasi dramatisasi puisi berdasarkan pada konsep yang baik dan benar.

Pelatihan ini akan menjadi sebuah catatan baru dalam pengembangan sumber daya kesenian melalui belajar dengan pola menggabungkan teori dan praktek sehingga peserta nantinya lebih expert (memiliki keahlian) dalam mengemas sebuah konsep pertunjukan.

Nurlaila Hamjah, juga menuturkan pelatihan ini salah satu upaya yang diharapkan mampu menjadi wadah pembangunan sumber daya manusia Aceh, dalam melahirkan inovasi baru di bidang puisi, salah satunya dramatisasi puisi.

“Untuk itu perlu kiranya kita dukung bersama kegiatan ini sehingga dapat terwujud kesinambungan acara sejenis demi tujuan panjang pembangunan manusia Aceh,” kata Nurlaila dalam keterangannya, Sabtu (3/4/2021).

Pelatihan ini, kata dia dapat menggairahkan kembali pegiat seni puisi untuk berkarya dan berkreativitas di era new normal, yang selama pandemi aktivitasnya sempat sepi.

Kemudian, timbul motivasi pecinta seni dramatisasi puisi pendatang baru yang punya potensi, terutama kaum milenial sebagai langkah regenerasi agar seni ini terus tumbuh, berkesinambungan dan selalu mendapat tempat di hati pencintanya.

“Sekarang, pekerja seni perlu terus belajar dan meningkatkan kapasitas dalam membuat konsep pertunjukan yang baik dan siap tampil di berbagai event ke depan dengan berbagai tema, tidak hanya di Aceh namun juga di luar Aceh,” ucapnya.

Sementara itu, Kasie Bahasa Disbudpar Aceh, Azhadi menuturkan, salah satu alternatif ruang ekspresi bagi pembaca puisi, diperlukan kecerdasan lebih untuk merumuskan dan menciptakannya sebagai seni pertunjukan.

Nilai urgensitas pelatihan ini, dapat di telusuri dari banyaknya jumlah puisi yang hidup di tengah sastrawan, puisi yang hidup dalam lembar-lembar tulisan tidak semua terekspose, sehingga melalui ruang-ruang dramatisasi sebagai seni pertunjukan akan terpublis dalam media publik, yaitu panggung.

Pada tahun-tahun berikutnya, kata dia pelatihan ini tetap dilaksanakan agar dramatisasi puisi yang selama ini masih ada yang salah kaprah dalam memahaminya, dapat tercerahkan.

Sehingga panggung-panggung dramatisasi puisi di Aceh tidak lagi menjadi sekadar ajang pementasan ecek-ecek yang tidak memiliki konsep yang gemilang.

“Semoga dinas terkait membuka peluang besar kepada sekolah-sekolah, guru-guru, komunitas atau sanggar-sanggar untuk menggali dan menampilkan pementasan melalui festival-festival dramatisasi puisi di tingkat lokal agar nama Aceh bisa bergaung di pentas nasional maupun internasional,” ujarnya.

-ads-

-ads-
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.