1.000 Hunian Rohingya dari Masyarakat RI Segera Dibangun

JAKARTA – Seribu hunian untuk pengungsi Rohingya hasil sumbangan masyarakat Indonesia akan mulai dibangun di Cox’s Bazar, Bangladesh, mulai November mendatang.

Pembangunan hunian hasil sumbangan yang disalurkan melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT) itu akan dilaksanakan pada pekan pertama November di Blok EE, Kamp Ukhiya, Kutupalong, Cox’s Bazar.

“Izin Alhamdulillah sudah kami dapatkan beberapa hari lalu. Saat ini, hanya tinggal menunggu eksekusi pembangunannya. Total 1000 shelter nanti akan menempati area sekitar 15 hektar,” tutur Direktur Respons Kemanusiaan Global ACT, Bambang Triyono.

Menurut Bambang, hunian sementara ini akan dibangun dengan bambu sehingga lebih kuat ketimbang tempat penampungan sekarang yang hanya beratapkan terpal dan beralaskan tanah.

Bambang memaparkan, 1.000 shelter atau hunian sementara yang dibuat akan terdiri dari beberapa set. Setiap set terdiri dari 12 pintu. Secara keseluruhan, akan ada 84 set unit hunian sementara.

“Pembangunannya akan dilakukan bertahap. Sekitar 12 atau 24 unit dalam satu atau dua set akan kita bangun dengan memindahkan terlebih dahulu 25 keluarga dari 25 tenda. Setelah shelter jadi, mereka baru akan dipindahkan kembali ke shelter yang baru,” ujar Bambang.

Jika pola pembangunan sesuai dengan jadwal, 1.000 unit hunian baru bagi pengungsi Rohingya itu diperkirakan bakal rampung dalam dua bulan ke depan.

Tak hanya membangun hunian sementara, tim ACT juga akan menyediakan fasilitas umum penunjang hidup lainnya, seperti madrasah atau masjid.

“Nanti di antara 1000 shelter itu akan dibangun pula 8 masjid, kemudian 8 sekolah dengan masing-masing 6 ruangan kelas. Lalu, untuk sanitasi akan ada sekitar 336 toilet tersebar di tiap sudut shelter,” kata Bambang, sebagaimana dilansir dalam pernyataan resmi ACT.

Segala fasilitas bantuan ini akan berdiri di Kamp Pengungsian Kutupalong, kamp yang menampung pengungsi Rohingya paling banyak di Cox’s Bazar. Merujuk pada data per 26 Oktober, ada lebih dari 425.500 pengungsi berjejalan di kamp ini.

Isu pengungsi Rohingya ini kembali menjadi sorotan setelah bentrokan antara militer dan kelompok bersenjata Myanmar pecah pada 25 Agustus lalu.

Bentrokan itu dipicu oleh serangan kelompok bersenjata Pasukan Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) ke sejumlah pos polisi dan satu pangkalan militer di Rakhine, Myanmar.

Militer pun menggencarkan operasi untuk membersihkan tanah Rakhine dari ARSA. Namun ternyata, militer tak hanya menggempur ARSA, tapi juga sipil Rohingya hingga merenggut setidaknya 1.000 nyawa dan membuat lebih dari 500 ribu orang kabur ke Bangladesh.(CNN)

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.